Melestarikan Lingkungan
Tidak ada orang yang menyangkal bahwa Banjar Tanggayuda Bongkasa adalah salah satu tempat yang terindah di Pulau Bali. Alamnya sangat hijau dan sejuk ditambah dengan anggota banjarnya yang ramah-tamah. Jika kita menyempatkan diri untuk meninjau lokasi banjar ini dari sebelah timur sungai ayung di depan kita akan terbentang pemandangan yang sangat mempersona. Pemandangan yang tak kalah indahnya juga jika anda meninjaunya dari sebelah barat yaitu dari pinggiran jurang yang terbentang sepanjang banjar. Disamping pemandangan yang indah di depan anda juga terlihat hotel berbintang lima yang ditata dengan villa-villanya yang elegant.
Tapi marilah kita berenung sejenak, bisakah kita melestarikan keindahan alam ini bagi generasi penerus kita ?
Salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk mencapai tujuan ini adalah dengan mengurangi penggunaan plastik dan jika kita harus memakai plastik usahakanlah untuk mempergunakannya berulang kali atau mengambil langkah dalur ulang.
Plastik memang dapat meringankan activitas kita sehari -hari karena plastik sangat praktis jika digunakan sebagai alat pengemas barang atau makanan. Tetapi untuk kepraktisan ini kita juga mengalami kerugian atau dampak yang sangat negatif terhadap lingkungan kita khususnya terhadap lahan pertanian masyarakat desa yang mata pencahariannya sangat tergantung dengan lahan tersebut.
Bayangkan saja jika kita membuang sampah plastik di kebun atau di halaman belakang rumah, sampah ini akan tetap tertimbun di sana selamanya karena plastik membutuhkan waktu beratus tahun untuk process pembusukananya. Dengan adanya plastik tergeletak, tertimbun , atau tertanam di tanah, tanah akan menjadi kering, kurang produktif bahkan sulit untuk dipakai sebagai lahan pertanian. Jadi semakin banyak plastik tergeletak, tertimbun atau tertanam di tanah akan semakin keringlah lahan pertanian kita dan lama kelamaan lahan itu akan menjadi lahan yang tidak berguna sama sekali bagi para petani kita. Sehingga beberapa tahun yang akan datang lahan yang kita pandang hijau dan subur akan menjadi kering dan gersang dan kurang indah dipandang mata.
Sedangkan Jika sampah plastik ini kita bakar ini akan menyebabkan polusi udara karena dalam process pembakaran ini memproduksi asap yang mengandung zat-zat kimia seperti sulfur dioxide dan nitrogen oxide yang tidak saja berbahaya bagi pernapasan tapi zat-zat ini juga merusak ozon stratosfir di angkasa. Lama-lama hal ini bisa menyebabkan cancer kulit bagi orang yang sering melakukan activitas luar atau outdoor activities.
Jika sampah ini terbuang ke sungai atau lautan ini akan menyebabkan polusi air yang berbahaya bagi ikan bahkan ikan-ikan bisa mati karena adanya kotoran plastik. Disamping itu sampah ini juga bisa menyebabkan banjir karena air sungai atau saluran air lainnya tersumbat oleh timbunan sampah. Jadi jika kita tetap mengkonsumsi plastic seperti sekarang ini atau lebih maka tidak lama lagi desa yang kita bangga-banggakan keindahnya tidak akan indah lagi adanya.
Apa salahnya jika kita kembali ke tradisi tradisional kita yaitu kembali mempergunakan bahan-bahan alami seperti daun pisang, daun kelapa, dan bahan sejenisnya. Jika sampah alami ini kita buang di kebun atau di halaman belakang rumah, sampah alami ini tidak saja membusuk dalam waktu yang relatif singkat tetapi sampah ini juga berfungsi sebagai pupuk alami atau kompos yang bisa meningkatkan kesuburan tanah.
Jadi mengurangi penggunaan plastik adalah salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk mempertahankan kelestarian lingkungan kita. Sekarang tentunya tergantung dari kesadaran kita bersama sebagai warga yang baik dan bertanggungjawab untuk meninggalkan legacy atau sesuatu yang berharga bagi generasi penerus kita.
By Luhde
Tidak ada komentar:
Posting Komentar