Rabu, 16 Februari 2011

Indahnya Memberi



Buku Kahlil Gibran “ The Prophet” diterjemahkan oleh Haryono W.N…Multi media, 2001, merupakan salah satu bacaan yg sangat pantas mendapat tempat dihati pembacanya. Beberapa butir mutiara pemikiran yg dapat dijadikan renungan akan disajikan sebagai berikut

Di era lunturnya rasa saling percaya antar sesame manusia, ketulusiklasan merupakan barang langka, orang hanya senang menerima namun pelit utk memberi. Ada baiknya merenungkan makna kalimat ini, agar muncul kesenangan saat memberi atau menerima. “ nikmatilah kesengan seperti bunga & lebah. Bagi lebah menghisap madu adalah kesengan dan bagi bunga memberi madu adalah kesenangan. Bagi bunga lebah adalah utusan kehidupan, dan bagi keduanya memberi dan menerima kesenangan adalah kebutuhan.begitu juga seperti ibu menyusui anaknya, sang ibu akan merasa senang dapat menyusi sang anak dan sebaliknya anak akan merasa puas dapat minus susu dari ibunya serta merasa hangat & nyaman dalam dekapan sang ibu.

Adapun yg menimpa keadaan seseorang, baik susah ataupun senang, tidaklah berdiri sendiri. Kesenangan adalah kebaikan yg terbuka kedoknya. Sebab dari sumber yg sama melahirkan tawa ataupun tangisan. Semakin dalam kesedihan menggores lika kedalam jiwa maka akan semakin mampu jiwa menampung kebahagiaan.

Apabila sedang bergembira mengacalah dalam-dalam kelubuk jiwa, sebab disanalah akan kita dapati hanya yg pernah memberikan penderitaan lah yg mampu memberikan kebahagiaan. Dan sebaliknya bila kita bersedih mengacalah lagi kedalam lubuk jiwa. Disannalah kita akan mengetahui bahwa sejatinya kita sedang menangisi apa yg dulu pernah kita syukuri.

Sungguh baik memberi pada saat diminta, tetapi jauh lebih baik jika memberi tanpa diminta. Bagi seorang pemurah , mencari siapa yg akan menerima adalah kebahagiaan yg melebihi tindak pemberiannya. Bukankan rasa takut pada kemiskinan adalah kemiskinan itu sendiri? Dan bukankah rasa takut akan dahaga, sementara sumur masih penuh adalah dahaga yg tidak mungkin terpuaskan.

Ada orang yg memberi sedikit dari miliknya yg banyak utk mencari ketenaran. Maka niat itu akan menjadi racun yg merusak segala yg ia berikan. Ada pula yg mempunyai sedikit dan memberikan semuanya. Merekalah yg percaya akan hidup dan anugrah kehidupan dan simpanan mereka tiada pernah habis. Ada juga yg memberi tanpa rasa gembira atau sedih hati, bahkan tanpa mengingat bahwa ia pernah memberi, seperti bunga-bunga di lembah sana yg menyebarkan wewangian keudara.

Menjalankan swadarma masing-masing dengan keikhlasan dan saling menghargai menjadi hal utama yg mesti disadari. Kalian benar jika sanggup memberi, tetapi bukan berarti jahat bila kalian masih mencari untung. Sebab mencari untung diibaratkan hanya sekadar….seperti akar…menghisap susu bumi. Dipepohonan, buah tdk pernah berkata kepada akar : “ jadilah seperti aku, yg masak dan ranum ini, dan memberikan kelimpahan hasilnya “. Sebab bagi buah memberi adalah kebutuhannya, sedangkan bagi sang akar, menerima adalah keuntunganya.
Sesungguhnya semua mahluk adalah sama dan saling membutuhkan, sadarilah batu yg ada dipuncak kuil tidak lebih mulia dari batu landasan yg paling bawah.

Dari wacana Suluh Bali ( maret 2010 )…wiratmaja..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar